Proyek Kampung Nelayan Merah Putih Hadir Bagai “Siluman” di Tengah Masyarakat?
Batu Bara -Sdictv.id| Proyek pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Desa Perupuk, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, menuai tanda tanya di tengah masyarakat. Pasalnya, kegiatan proyek bernilai miliaran rupiah tersebut disebut-sebut hadir tanpa sosialisasi yang jelas kepada warga setempat. (13-3-2026)
Berdasarkan informasi yang diperoleh, proyek yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2025–2026 itu berada di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui satuan kerja Sekretariat Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Nilai proyek tersebut mencapai Rp14.013.702.000 dengan masa pengerjaan selama 180 hari kalender.
Namun hingga kini, sebagian warga mengaku tidak mengetahui secara pasti tujuan maupun detail pembangunan yang sedang berlangsung di wilayah mereka. Kondisi ini membuat proyek tersebut seolah “hadir secara tiba-tiba” di tengah masyarakat.
Saat ditemui beberapa waktu lalu, Camat Lima Puluh Pesisir, Sabri, menyampaikan bahwa pihak kecamatan juga tidak menerima penjelasan rinci terkait proyek tersebut.
“Saya hanya diberi tahu oleh Kepala Desa Anton melalui komunikasi singkat. Informasinya tidak begitu rinci, termasuk terkait status kepemilikan tanah dan hal lainnya. Setahu saya sampai saat ini memang belum ada sosialisasi resmi kepada masyarakat,” ujar Sabri.
Ia menambahkan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, lahan lokasi proyek disebut-sebut sebelumnya milik seorang warga bernama Jhon Kaidir. Namun ia mengaku belum mengetahui secara pasti apakah lahan tersebut sudah resmi dijual atau dialihkan kepada pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan.
“Saya berharap pihak kontraktor bisa lebih terbuka kepada masyarakat. Setidaknya ada penjelasan mengenai tujuan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih ini, supaya warga memahami dan tidak menimbulkan gesekan di kemudian hari,” lanjutnya.
Diketahui proyek tersebut dikerjakan oleh PT Mitra Agung Indonesia – CV Baladwipa KSO sebagai pelaksana pekerjaan.
Sementara itu, Kepala Desa Perupuk, Anton, ketika dihubungi melalui telepon seluler hanya memberikan jawaban singkat.
“Iya Bang, nanti kita ketemu saja. Tolong jangan tayang dulu ya Bang,” ucapnya.
Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum dapat kembali dihubungi untuk memberikan keterangan lebih lanjut terkait proyek tersebut.
Ketiadaan sosialisasi yang jelas kepada masyarakat memunculkan berbagai pertanyaan di kalangan warga sekitar.
Banyak pihak berharap pemerintah maupun pelaksana proyek dapat memberikan penjelasan terbuka agar pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan nelayan tersebut dapat dipahami dan diterima oleh masyarakat.
(Kabiro SM)
