Terjadi Lagi Aksi Pencurian Beregu di Desa Paya Lombang, Warga Resah


Siaran Pers
Media SDICTV Tebing Tinggi⁠

Terjadi Lagi Aksi Pencurian Beregu di Desa Paya Lombang, Warga Resah

Tebing Tinggi — Warga Desa Paya Lombang, Dusun 2, Kecamatan Tebing Tinggi, kembali dibuat resah dengan maraknya aksi pencurian yang diduga dilakukan oleh komplotan maling beregu atau terorganisir. Kejadian terbaru menimpa sebuah mobil Carry pengangkut galon air minum milik usaha “Yuda Water” yang terparkir di kawasan desa tersebut pada Rabu, tanggal 6 Mei 2026 sekitar pukul 04.00 WIB dengan nomor polisi BK 8189 NE.
Menurut keterangan warga, mobil yang berisi botol-botol galon air siap antar untuk pelanggan keesokan harinya itu digasak kawanan maling pada malam hari. Warga menduga pelaku bukan orang biasa, melainkan kelompok yang sudah ahli dalam menjalankan aksinya dan diduga memiliki kaki tangan di sekitar wilayah Desa Paya Lombang.
Pemilik usaha air minum, Bang Yuda, mengaku sangat kesal atas kejadian tersebut. Ia mengatakan selama ini wilayah Paya Lombang dikenal aman dan jarang terjadi tindak kriminal seperti pencurian besar-besaran.
“Biasanya aman-aman saja mobil itu parkir di sini. Selama ini Paya Lombang terkenal kondusif, makanya kami sangat terkejut dengan kejadian ini,” ujar Bang Yuda kepada awak media.
Ia berharap aparat Kepolisian Tebing Tinggi dapat segera bergerak cepat mengungkap pelaku pencurian yang sudah meresahkan masyarakat tersebut. Menurut informasi, salah satu tetangga korban memiliki rekaman CCTV yang diduga dapat membantu proses penyelidikan. Namun hingga kini data video tersebut masih belum berhasil diperoleh.
Tidak hanya di Dusun 2, pada malam yang sama warga di Dusun 1 juga dilaporkan mengalami kehilangan beberapa unit mesin. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa aksi pencurian dilakukan secara terorganisir dan menyasar beberapa titik sekaligus dalam satu malam.
Masyarakat berharap pihak berwenang meningkatkan patroli keamanan malam hari agar kejadian serupa tidak terus terulang dan membuat warga hidup dalam ketakutan.

 M. Ramadhani