Inovasi DE IMEJ Dinilai Layak Jadi Model Nasional, Dukung Pengembangan Platform "All Indonesia"


SIARAN PERS
MEDIA SDICTV

Inovasi DE IMEJ Dinilai Layak Jadi Model Nasional, Dukung Pengembangan Platform "All Indonesia"

SDICTV.ID – Inovasi pelayanan keimigrasian berbasis digital DE IMEJ (Digital Ecosystem of Immigration and East Java) dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari pengembangan platform nasional All Indonesia, sebuah sistem terpadu yang diharapkan mampu menyatukan layanan kedatangan internasional, informasi daerah, serta promosi pariwisata Indonesia dalam satu ekosistem digital.

Gagasan tersebut disampaikan Abdullah Rasyid, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pemerintahan IPDN sekaligus Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, melalui sebuah artikel yang mengulas hasil kunjungan evaluasi tata kelola dan pelayanan publik di sejumlah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di Provinsi Jawa Timur.

Dalam kunjungan tersebut, Abdullah Rasyid bersama Tenaga Ahli Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Rahmad Wahyudi, melakukan evaluasi pelayanan di berbagai UPT, mulai dari Kantor Imigrasi, Balai Pemasyarakatan (Bapas), Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), Rumah Tahanan Negara (Rutan), hingga Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).

Menurutnya, evaluasi pelayanan publik tidak hanya bertujuan menilai capaian administrasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menemukan inovasi yang dapat direplikasi secara nasional.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah DE IMEJ, yang dikembangkan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jawa Timur, Novianto Sulastono atau yang akrab disapa Pak Toton.

DE IMEJ menghadirkan layanan informasi digital berbasis kode QR yang dapat diakses melalui telepon pintar. Platform tersebut dirancang untuk memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan warga negara asing (WNA), mulai dari layanan keimigrasian, prosedur kehilangan paspor, transportasi, destinasi wisata, pendidikan, investasi, budaya, hingga berbagai layanan publik lainnya di Jawa Timur.

Melalui konsep tersebut, DE IMEJ tidak hanya memperkuat fungsi pengawasan keimigrasian, tetapi juga meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat internasional yang datang secara sah ke Indonesia.

Abdullah Rasyid menilai, pelayanan keimigrasian modern tidak cukup hanya berfokus pada aspek pengawasan dan keamanan negara, tetapi juga harus mampu menghadirkan kepastian informasi, kemudahan layanan, serta pengalaman yang baik bagi para pengguna layanan.

"Semakin mudah akses informasi yang diterima WNA, maka semakin besar pula peluang mereka untuk mematuhi seluruh ketentuan keimigrasian," tulisnya.

Lebih jauh, DE IMEJ juga dinilai mampu menjadi sarana promosi potensi daerah. Seluruh informasi mengenai destinasi wisata, budaya, pendidikan, investasi, transportasi, hingga produk ekonomi kreatif dapat diakses melalui satu pintu tanpa harus membuka berbagai platform milik instansi yang berbeda.

Konsep inilah yang dinilai sejalan dengan pengembangan platform All Indonesia, yang saat ini tengah dikembangkan Direktorat Jenderal Imigrasi sebagai sistem layanan digital terpadu bagi pelaku perjalanan internasional.

Melalui platform tersebut, seluruh kebutuhan pengguna mulai dari dokumen keimigrasian, deklarasi kepabeanan, ketentuan karantina, informasi kesehatan, transportasi lanjutan, destinasi wisata hingga peluang investasi diharapkan dapat diakses dalam satu antarmuka (single interface).

Abdullah Rasyid menegaskan bahwa pengembangan All Indonesia harus mengedepankan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, lembaga karantina, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pariwisata, pemerintah daerah, hingga dunia usaha.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa integrasi digital tidak boleh melahirkan birokrasi baru maupun tumpang tindih aplikasi. Setiap instansi tetap menjalankan kewenangannya masing-masing, sementara masyarakat cukup menggunakan satu platform yang terintegrasi.

Selain itu, terdapat sejumlah prinsip yang harus dijaga, antara lain pembaruan data secara berkala, perlindungan data pribadi, keamanan siber, integrasi dengan sistem resmi pemerintah, serta transparansi dalam pelibatan sektor swasta.

Menurutnya, keberhasilan platform digital juga tidak dapat diukur hanya dari jumlah pengguna atau banyaknya kode QR yang dipindai. Indikator keberhasilan harus mencakup peningkatan kepatuhan WNA, percepatan proses kedatangan internasional, peningkatan lama tinggal wisatawan, pertumbuhan transaksi UMKM, hingga meningkatnya kualitas pengalaman wisatawan selama berada di Indonesia.

Di akhir tulisannya, Abdullah Rasyid menegaskan bahwa inovasi daerah seperti DE IMEJ tidak seharusnya berhenti sebagai kebanggaan lokal semata. Inovasi tersebut layak diuji, disempurnakan, dan diintegrasikan menjadi bagian dari arsitektur nasional melalui platform All Indonesia.

"Jika pintu masuk negara mampu menyatukan aspek keamanan, pelayanan, dan promosi dalam satu sistem yang terintegrasi, maka Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara yang indah untuk dikunjungi, tetapi juga sebagai negara yang mampu menyambut dunia secara tertib, cerdas, dan bermartabat," tutupnya.

(Red)